Tak Becus Tangani Kasus Novel Baswedan, Kejagung Jangan Mandul

Tak Becus Tangani Kasus Novel Baswedan, Kejagung Jangan Mandul

Novel Baswedan. Foto Jawa Pos

Kelompok masyarakat yang mengatasnamakan Gerakan Rakyat Tangkap Novel Baswedan (Gertak) menilai Kejaksaan Agung (Kejagung) mandul terhadap penegakan hukum.

Hal ini disebabkan Kejagung yang dipimpin oleh ST Burhanuddin tidak berani menindaklanjuti kasus penyidik senior KPK Novel Baswedan atas kasus penganiayaan yang dikenal dengan perkara sarang burung walet di Bengkulu pada 2004 lalu.

Hal ini disampaikan Gertak saat menggelar aksi demontrasi di depan Gedung Kejagung, Jakarta Selatan, Jumat (3/1). Koordinator Aksi Gertak, Rahman menilai Kejagung sudah menjadikan hukum sebagai permainan politik.

“Katakan saja kasus pembunuhan dan penganiayaan di Bengkulu karena masalah pencurian sarang burung walet berakibat hilangnya nyawa seseorang. Padahal, jika ingin menegakan Hukum tidak dibenarkan juga untuk menganiaya bahkan membunuh rakyat kecil hanya karena alasan faktor ekonomi,” kata Rahman.

Menurut Rahman, tidak seharusnya Novel Baswedan seorang penyidik Polresta Bengkulu kala itu melakukan tindakan dengan menganiaya bahkan sampai mengakibatkan korban meninggal dunia.

Rahman menilai kasus penganiayaan rakyat kecil di Bengkulu oleh Novel Baswedan seakan membuka mata dan hati akan rasa kemanusiaan yang berhak untuk hidup.

“Novel Baswedan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di mata hukum. Karena semua orang adalah sama di mata hukum tanpa ada kecuali. Novel Baswedan seakan tidak pernah menyadari itu, mungkin baginya dengan menganiaya dan membunuh rakyat kecil sangatlah gampang. Akan tetapi hukum di negara kita sebagai panglima tidak akan pernah padam,” jelas dia.

Karena itu, Rahman mendesak Jaksa Agung yang memiliki kewenangan agar kasus Novel diproses kembali demi asas keadilan dan rasa kemanusiaan.

Menurut Rahman, pembiaran ini justru membuat posisi Burhanuddin terkesan melindungi seorang pembunuh.

“Padahal, pihak korban sudah menang dalam upaya hukum praperadilan seharusnya Jaksa Agung segera melakukan eksekusi dengan melimpahkan berkas perkara Novel Baswedan ke pengadilan,” kata dia.

Untuk membersihkan nama penegakan hukum, Rahman Koordinator Aksi lantas meminta Jaksa Agung segera menangkap Novel sebagai otak pembunuh dan penganiaya rakyat kecil di Bengkulu. Jaksa Agung, tegas dia, jangan tebang pilih kasus dengan melindungi pembunuh serta penganiaya.

“Masak Novel Baswedan otak pembunuhan dan penganiayaan harus dilindungi. Jaksa Agung mandul sama dengan runtuhnya penegakan hukum di Indonesia,” tegas Rahman