Dinkes Catat Penyakit TBC Paling Banyak Merenggut Nyawa di Pasaman

Dinkes Catat Penyakit TBC Paling Banyak Merenggut Nyawa di Pasaman

CakraBerita.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat mencatat penyakit TBC (Tuberkulosis) menjadi jenis penyakit paling banyak merenggut nyawa warga di daerah setempat.

Kepala Dinas Kesehatan Pasaman, dr Arnida menyebutkan penyakit TBC merupakan penyakit paru-paru akibat kuman Mycobacterium tuberculosis.

“Sepanjang tahun 2019 ada 26 pasien yang meninggal dunia akibat penyakit TBC ini. Pasien mengalami gejala berupa batuk yang berlangsung lama (lebih dari 3 minggu), biasanya berdahak, dan terkadang mengeluarkan darah,” kata dr Arnida.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Arma Putera menyebutkan peristiwa kematian akibat TBC itu tersebar hampir di seluruh Puskesmas yang ada, dengan jumlah kasus tertinggi sebanyak 3 pasien meninggal per Puskesmas.

“Rata-rata tertinggi jumlah kematian tersebut terjadi di Puskesmas Lubuk Sikaping, Puskesmas Sundatar, dan Puskesmas Tapus,” katanya.

Sementara Kepala Seksi Surveilans dan Penanganan Krisis Dinkes Pasaman, Ns. Silviani Dewi mengatakan kuman TBC tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga bisa menyerang tulang, usus, atau kelenjar.

“Penyakit ini ditularkan dari percikan ludah yang keluar penderita TBC, ketika berbicara, batuk, atau bersin. Penyakit ini lebih rentan terkena pada seseorang yang kekebalan tubuhnya rendah, misalnya penderita HIV,” jelasnya.

Menurutnya, TBC dapat dideteksi melalui pemeriksaan dahak serta beberapa tes lain yang dapat dilakukan untuk mendeteksi penyakit menular seperti foto Rontgen dada, tes darah, atau tes kulit (Mantoux).

Penyakit ini dapat disembuhkan jika penderitanya patuh mengonsumsi obat sesuai dengan resep dokter. Untuk mengatasi penyakit ini, penderita perlu minum beberapa jenis obat untuk waktu yang cukup lama (minimal 6 bulan).

“Pengobatan penyakit TBC membutuhkan waktu yang cukup lama dan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, memiliki asuransi kesehatan bisa menjadi pertimbangan, sehingga masyarakat tidak perlu dipusingkan dengan tanggungan biaya saat berobat nanti,” terangnya.

Selain itu, TBC dapat dicegah dengan pemberian vaksin, yang disarankan dilakukan sebelum bayi berusia 2 bulan, mengenakan masker saat berada di tempat ramai, tutupi mulut saat bersin, batuk, dan tertawa dan tidak membuang dahak atau meludah sembarangan.

“Penerapan pola hidup sehat menjadi kunci dalam mencegah mewabahnya suatu penyakit, untuk itu diperlukan kesadaran tinggi semua pihak dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” tegasnya.

Pihaknya berharap masyarakat dapat mewaspadai bahaya penyakit TBC itu agar anka kematian tidak meningkat di tahun 2020 ini.

“Kami juga bakal meminta kepada Puskesmas gencar melakukan edukasi, sosialisasi dan pengecekan dini tentang penyakit TBC tersebut,” tutupnya.