Libur Panjang, Masyarakat Banyak Yang Langgar Prokes

Libur Panjang, Masyarakat Banyak Yang Langgar Prokes

mediasumutku.com| MEDAN- Menikmati libur panjang di masa pandemi ini, ternyata masih banyak masyarakat yang lupa menerapkan protokol kesehatan. Padahal, kerumunan di tempat tempat pusat perbelanjaan maupun wisata beresiko akan memperluas peyebaran virus covid 19.

Berdasarkan amatan wartawan, di wilayah Berastagi terjadi penumpukan jumlah wisatawan. Tingkat hunian hotel terisi penuh. Di pasar buah berastagi juga terjadi lonjakan jumlah pengunjung.

Dan penumpukan jumlah wisatawan juga terjadi pada sejumlah tujuan wisata lainnya. Seperti pantai, danau toba dan sejumlah objek wisata di wilayah Sumut. Di pusat perbelanjaan modern juga demikian, terjadi lonjakan jumlah pengunjung. Peningkatan ini jelas menunjukan kalau masyarakat tengah menikmati liburan panjang.

“Kondisi seperti ini bisa memperburuk keadaan. Dimana, lonjakan jumlah pengunjung sangat mengkuatirkan bukan hanya bagi kondisi kesehatan masyarakat. Lebih dari itu akan berpengaruh terhadap kondisi ekonomi kedepan nantinya,”kata pengamat ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, Minggu (31/10/2020).

Dengan begitu katanya, ada ancaman dari peningkatan kerumunan masyarakat dari sisi ekonomi. Peningkatan jumlah kunjungan masyarakat jika diikuti dengan penambahan peningkatan pasien covid 19, maka yang terjadi selanjutnya adalah adanya potensi kenaikan harga kebutuhan pangan masyarakat.

“Jika penambahan covid 19 ini nantinya akan membuat sejumlah pemangku kebijakan khususnya Gubernur memberlakukan PSBB ketat, atau rem darurat untuk wilayah DKI. Maka yang terjadi adalah jalur distribusi barang akan mengalami gangguan. Ingat Sumut itu kebutuhan pokoknya tidak hanya dari Sumut. Sumut juga bergantung ke wilayah lain seperti Jawa, Sumbar, Aceh untuk sejumlah kebutuhan pokok seperti Beras, Bawang dan Cabai,”ujarnya.

Sehingga, kenaikan harga barang tersebut sulit untuk dihindari. Selanjutnya, jika PSBB ketat diberlakukan lagi. Maka yang menjadi masalah lain adalah adanya potensi tekanan laju pertumbuhan ekonomi.

“Artinya, Indonesia akan kesulitan untuk keluar dari resesi. Beban ekonomi akan semakin berat dan tentunya masyarakat juga yang akan merasakan dampaknya nanti,” ujarnya.

Selanjutnya, kata dia, dengan penambahan kasus covid 19, maka yang akan dirugikan adalah anggaran pemerintah. Semakin banyak penambahan pasien, maka semakin besar jumlah anggaran yang dibutuhkan untuk kebutuhan medis. Kalikan saja jika asumsi paling murah anggaran pasien covid 19 per orang adalah 105 juta rupiah.

“Jika mengacu kepada wilayah Sumut yang angka pasiennya lebih dari 12 ribu orang. Dan jika mereka semua mendapatkan perawatan. Maka setidaknya kita membutuhkan anggaran sekitar 1.3 Trilyun Rupiah. Ini bicara SUMUT belum berbicara nasional,” katanya.

Belum lagi kerugian yang diakibatkan banyak orang merenggang nyawa karena covid 19 ini. Jelas kerugian dalam bentuk seperti ini tidak bisa dihitung dnegan angka angka materi. Dan nilainya jelas tak ternilai disitu.

“Dan muara dari penambahan jumlah kasus tersebut nantiya akan membuat negara terbebani dengan anggaran yang semakin besar, dihantui resesi berkepanjangan, harga pangan naik, daya beli masyarakat anjlok, korban jiwa berjatuhan, hingga hutang pun menumpuk,” tutupnya. (MS11)