PLTU di Sumut Berpotensi Jadi Penyumbang Sumber Krisis Iklim

PLTU di Sumut Berpotensi Jadi Penyumbang Sumber Krisis Iklim

mediasumutku.com|MEDAN- Keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara Pangkalan Susu yang berlokasi di Tanjung Pasir, Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat menyebabkan penggundulan hutan bakau meluas, erosi tanah, kehilangan sumber air, polusi udara dan menghasilkan jutaan ton limbah.

Air dalam jumlah yang besar dalam pengoperasian PLTU batu bara mengakibatkan kelangkaan air di banyak tempat. Pembakaran batu bara di PLTU adalah sumber utama gas rumah kaca serta penyebab perubahan iklim seperti, karbondioksida, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, serta metana yang memperburuk kondisi iklim kita.

Memahami kondisi yang ada, Dewan Energi Mahasiswa Sumatera Utara hadir sebagai mediasi yang menjembatani edukasi Energi Baru Terbarukan (EBT) dan peluangnya. Pada kegiatan yang bertajuk Kombur Energi Internal DEM Sumut dengan tema “Potensi Energi Sumut, Apakah Batu Bara Pilihan Strategisnya, belum lama ini.

Mutiara Firanty selaku anggota DEM Sumut menyampaikan, potensi energi di Sumut sangatlah banyak, lalu batu bara bukanlah menjadi solusi yang tepat. Karena sumut memiliki banyak potensi energi lain.

“Perlu disadari bahwa kita berada di garis sinar matahari yang maksimal dari seluruh dunia. Maka harapannya dapat dimanfaatkan itu. Oleh karena itu, kami mendeklarasikan untuk menghentikan pembangunan fasilitas unit PLTU di Pangkalan Susu yang baru,” katanya, Rabu (31/3/2021).

Pengelola PLTU, katanya, seharusnya memperhatikan lingkungan sekitar usaha mereka, agar petani dan nelayan bisa bekerja dan tak terganggu operasi pembangkit.

“Abu batu bara diduga menyebabkan petani gagal panen. Hama merusak tanaman petani. Belum lagi debu-debu batu bara yang beterbangan ke pemukiman maupun tanaman warga. Selain itu, asap pembakaran dari cerobong pembangkit, menyebar ke pelosok Langkat,” sebutnya.

Presiden DEM Sumut, Raden Haitami Abduh, menyebutkan, potensi SDA di Indonesia khususnya Sumatera Utara sangat berlimpah. Tapi, pemanfaatan SDA dan SDM belum maksimal.

“Hari ini Batu bara masih saja menjadi prioritas utama. Padahal, Batu bara memiliki banyak sekali dampak negatif mulai proses pertambangannya sampai pengelolaannya,” sebutnya.

Alam di eksploitasi untuk mendapatkan batu bara, bekas galian yang seakan akan tidak lagi menjadi hal yang perlu dipertanggungjawabkan, proses pengangkutan batu bara melalui jalur laut yg tidak jarang sekali membuat batu bara tumpah ke laut dan membuat pencemaran, limbah serta asap pabriknya yg tidak terkontrol sehingga banyak mengganggu kenyamanan dan sangat berbahaya bagi mahkluk hidup.

“Sudah jelas bahwa batu bara harus segera kita tinggalkan dan beralih kepada energi yang lebih bersih. Kita sebagai mahasiswa yg tergabung dalam DEM SUMUT harus mengawal ini dan juga mendukung pemerintah dalam proses transformasi dari energi fosil serta buruk menuju energi baru terbarukan yg lebih baik,” katanya. (MS11)