Masjid Raya Sultan Ahmadsyah, Saksi Jejak  Kesultanan Asahan

Masjid Raya Sultan Ahmadsyah, Saksi Jejak  Kesultanan Asahan

mediasumutku.com | TANJUNGBALAI – Kesultanan Asahan yang pernah Berjaya pada abad ke-17 memiliki pengaruh besar tersiarnya agama Islam di pesisir Timur Sumatera termasuk wilayah Asahan, Tanjungbalai. Salah satu peninggalan ikoniknya yang masih ada yakni, Masjid Raya Sultan Ahmadsyah di Kota Tanjungbalai yang mulai dibangun pada tahun 1884 dan selesai dua tahun setelahnya.

Konon, Masjid ini merupakan tertua di Sumatera Utara, melampaui usia Masjid Raya Al Mahsum di Kota Medan yang dibangun 1909 silam. Masjid Raya Sultan Ahmadsyah, berada di Jalan masjid, Kelurahan Indra Sakti Kecamatan Tanjungbalai Selatan.

Nama Sultan Ahmadsyah sendiri merupakan Sultan yang berkuasa saat itu di wilayah Kesultanan Asahan antara tahun 1854 hingga 1888. Sementara, kepengurusan Masjid saat ini, salah satunya diurus oleh Tengku Aleksander, anak dari Sultan Kesultanan Asahan ke XI.

“Kalau keunikan khas dari Masjid ini tidak adanya pilar penyangga di tengah bangunan masjid. Shaf solat tidak terhalang atau terputus karena tiang seperti masjid kebanyakan. Maknanya, Allah itu tak memerlukan penyangga untuk berdiri, ” kata dia, saat berbincang bersama wartawan, Minggu (18/4/2021).

Arsitektur Masjid ini bergaya kental Melayu, ditandai dengan warna hijau dan kuning corak khas masyarakat Melayu pesisir. Nuansa zaman kesultanannya begitu terasa dengan hadirnya mimbar yang kokoh berdiri tegak langsung menghadap shaff jamaah, tempat khatib menyampaikan khutbah. Konon, mimbar tersebut dipesan Kesultanan Asahan langsung dari China.

Keunikan lain masjid ini dibangun dengan pondasi tanpa semen, melainkan campuran tanah liat, pasir dan batu bata, kemudian letak kubahnya jika masjid kebanyakan berada di tengah tengah ruangan, di sini melainkan pada depan bangunan.

“Kemudian ada lima belas pintu dari sisi samping dan depan masjid sehingga sirkulasi udara di dalam ketika salat cukup baik, angin tidak terhalang masuk,” ujarnya.

Berdiri diatas lahan seluas 8.455 meter persegi, pada kompleks Masjid ini juga terdapat beberapa makam keluarga kesultanan Asahan. (MS10)