Sakit Hati Karena Dicap Pembohong, Sidang Kuat Ma’ruf Ditertawai Pengunjung!

Berita, Hukrim39 Dilihat

Suasana sidang dipenuhi gelak tawa ketika terdakwa Kuat Ma’ruf mengonfirmasi kejujurannya kepada saksi ahli forensik di sidang lanjutan kasus pembuhunan berencana terhadap Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Rabu (21/12).

Kuat mempertanyakan hal itu lantaran dirinya sakit hati dicap sebagai pembohong.

Hakim Ketua Wahyu Iman Santoso mulanya memberikan kesempatan kepada Kuat untuk menanggapi keterangan para saksi ahli dalam persidangan.

Namun, Kuat memilih untuk bertanya kepada ahli psikologi forensik Reni Kusumowardhani yang hadir sebagai saksi ahli. Hakim Ketua pun mempersilahkan Kuat untuk bertanya.

Kuat bercerita, dirinya merasa sakit hati karena disebut sebagai pembohong belakangan ini.

“Mohon maaf ibu, kalau ibu menyimpulkan saya di bawah rata-rata saya ikhlas, bu. Yang saya tanyakan saya tipe orang pembohong, apa yang tidak jujur, apa gimana ibu? Soalnya akhir-akhir ini saya sering disebut pembohong dan tidak jujur, dan saya sakit dengan bahasa itu,” terang Kuat, Selasa (21/12).

Reni pun menjelaskan bahwa kebohongan memang pernah terjadi. Namun, kebohongan tersebut telah diakui dan direvisi. Pihaknya kemudian telah mengukur kredibilitas keterangan Kuat.

“Jadi simpulannya, sebetulnya karena kepatuhan yang sangat tinggi, seperti itu, dan ada satu situasi tidak tahu menahu, berada di dalam satu tempat yang seperti itu. Sehingga berada di tempat yang keliru, ya pak ya, pada saat itu,” kata Reni.

“Terima kasih ibu. Padahal aslinya jujur ya, ibu?” tanya Kuat.

Pengunjung sidang pun tertawa menanggapi pertanyaan Kuat tersebut.

“Kami tidak bilang bohong ya, Pak. Tidak ada indikasi manipulatif,” terang Reni.

Pada persidangan sebelumnya, Kuat mengaku bingung dengan hasil tes poligraf atau uji kebohongan yang menunjukkan adanya indikasi bohong.

“Bahwa saya sudah jujur kalau saya tidak melihat, tapi di poligraf kok masih berbohong,” ujar Kuat dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (14/12).

Sontak pernyataan Kuat Ma’ruf pun disambut tawa oleh Ketua Majelis Hakim Wahyu Iman Santoso.

Hasil tes poligraf Kuat yang dijelaskan saksi ahli poligraf Aji Febrianto Ar-Rosyid menunjukkan dua hasil berbeda, yakni terindikasi bohong dan jujur.

Aji mengatakan Kuat Ma’ruf menjalani dua kali tes poligraf, dengan nilai masing-masing +9 dan -13 untuk tes kedua.

Tes pertama dengan pertanyaan ‘Apakah kamu memergoki persetubuhan Ibu Putri dengan Yosua’. Kuat menjawab tidak memergoki peristiwa itu dan hasilnya, kata Aji, dinyatakan jujur.

“Indikasi kedua ‘Saudara Kuat tanggal 9 September, apakah kamu melihat Pak Sambo menembak Yosua?’ Jawaban Kuat, tidak. Indikasi berbohong,” kata Aji.

Sontak pernyataan Kuat Ma’ruf pun disambut tawa oleh Ketua Majelis Hakim Wahyu Iman Santoso.

Pengunjung sidang tertawa ketika terdakwa Kuat Ma’ruf mengonfirmasi kejujurannya kepada saksi ahli forensik di sidang lanjutan kasus pembuhunan berencana terhadap Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J, di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Rabu (21/12).

Kuat Ma’ruf mempertanyakan hal itu lantaran dirinya sakit hati dicap sebagai pembohong.

Hakim Ketua Wahyu Iman Santoso mulanya memberikan kesempatan kepada Kuat untuk menanggapi keterangan para saksi ahli dalam persidangan.

Aji dihadirkan sebagai ahli poligraf yang kesaksiannya didengarkan majelis hakim PN Jakarta Selatan untuk terdakwa Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Bharada Richard Eliezer, Bripka Ricky Rizal, dan Kuat Ma’ruf.

Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Richard Eliezer atau Bharada E, Ricky Rizal atau Bripka RR, dan Kuat Ma’ruf merupakan terdakwa dalam kasus pembunuhan berencana terhadap Yosua.

Mereka didakwa melanggar Pasal 340 subsider Pasal 338 juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Pembunuhan terhadap Brigadir J terjadi pada Jumat, 8 Juli 2022 di rumah dinas Sambo nomor 46 yang terletak di Kompleks Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan. Dalam surat dakwaan, Bharada E dan Sambo disebut menembak Yosua.

Latar belakang pembunuhan diduga karena Putri telah dilecehkan Brigadir J saat berada di Magelang pada Kamis, 7 Juli 2022. Dugaan ini telah dibantah oleh pihak keluarga Yosua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *