Sesar Opak Yang Masih Aktif Membayangi Gempa Yogyakarta

Berita1131 Dilihat

Masyarakat di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai mengenal Sesar Opak sejak kejadian gempa bumi dahsyat yang terjadi pada 27 Mei 2006. Gempa bumi berkekuatan 5,9 Skala Richter yang dirasakan di sebagian wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Gempa utama tersebut juga terus diikuti gempa susulan dengan kekuatan lebih kecil.

Kekuatan gempa tersebut merusak ratusan ribu bangunan serta memakan ribuan korban jiwa.

Kerusakan terparah diketahui berada di lajur yang ada di sekitar aliran Sungai Opak di Dusun Potrobayan, Srihardono, Pundong, Bantul yang kini dikenal dengan Sesar Opak.

APA SEBENARNYA SESAR OPAK ?

Sesar Opak adalah patahan yang berada di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di sekitar aliran Sungai Opak. Sesar Opak berarah timur laut-barat daya dengan blok timur relatif bergeser ke utara dan blok barat ke selatan dengan lebar dari zona Sesar Opak ini diperkirakan sekitar 2,5 kilometer (Eko Soebowo, Adrin Tohari, Dwi Sarah, 2007).

Gawir (tebing terjal) yang terbentuk oleh Sesar Opak berada dalam zona fisiografi Pegunungan Selatan (Van Bemmelen, 1949), tepatnya di Lajur Batur Agung. Sesar Opak menjadi patahan utama yang membatasi Lajur Batur Agung dengan dataran rendah Yogyakarta (Van Bemmelen, 1949; Untung dkk, 1973; Rahardjo dkk, 1995; Sudarno, 1997, dalam Husein dan Srijono, 2009).

Sesar Opak sebelumnya diperkirakan sebagai sesar turun (Van Bemmelen, 1949; Untung dkk, 1973; Rahardjo dkk, 1995, dalam Husein dan Srijono, 2009).

Hal yang sama diungkap Sudarno (1997), dalam penelitiannya mengenai reaktivasi Sesar Opak, menyimpulkan bahwa Sesar Opak merupakan sesar turun hasil dari reaktivasi sesar geser mengiri yang telah ada sebelumnya. Namun setelah peristiwa gempa Yogyakarta 2006 terjadi, kesimpulan mengenai pergerakan sesar pembentuk gawir tersebut kembali dipertanyakan oleh para peneliti.

Hal ini karena hasil analisis data gempa menunjukkan sesar penyebab gempa merupakan sesar naik dengan komponen geser mengiri (Harvard-CMT, NEIC-FMT, dan NIED, 2006, dalam Tsuji, 2009; Meilano, 2007, dalam Abidin, 2009; Abidin dkk, 2009; Tsuji dkk, 2009).

Sementara dikutip dari Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017, zona Sesar Opak membentuk gawir memanjang berarah barat daya-timur laut yang kemudian membelok ke arah timur dan bergabung dengan sistem sesar naik Batur Agung yang sudah tidak aktif lagi.

Keberadaan sesar Opak kemudian menjadi perhatian karena gempa di Yogyakarta pada tahun 2006 disinyalir terbentuk di sepanjang sesar ini. Hasil penelitian lapangan yang dilakukan sekitar 3 bulan setelah gempa tahun 2006 menunjukan keberadaan surface ruptures dari gempa ini di lokasi sepanjang Sesar Opak dengan dominan pergerakan geser sinistral (Natawidjaja, 2016).

Namun karena data surface ruptures sudah banyak yang hilang atau tidak terlihat ketika dilakukan penelitian lapangan maka dokumentasi surface ruptures ini menjadi tidak lengkap. Selain itu ditemukan perbedaan mencolok dari hasil penelitian geologi lapangan dengan hasil rekaman aftershock gempa yang dilakukan oleh Walter dkk. (2008) dan Fukuoka dkk. (2009).

Data aftershock mengindikasikan sumber gempa sejajar Sesar Opak namun berada sekitar 5 kilometer ke arah timur. Natawidjaja (2016) mencoba memberikan solusi untuk perbedaan ini dengan memberikan hipotesa bahwa kemungkinan bidang sesar mempunyai kemiringan sekitar 50 derajat ke arah timur.

SESAR OPAK DAN STRATEGI MITIGASI

Dikutip dari pemberitaan Kompas.com 27 Mei 2021, hasil pemantauan Stasiun Geofisika Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Yogyakarta menyatakan bahwa gempa tektonik berkekuatan M 5,9 itu terjadi pada 27 Mei 2006 pukul 05.53 itu memiliki hiposentrum di lepas pantai Samudra Hindia.

Sementara posisi episentrum berada pada perbukitan struktural yang berjarak kurang lebih 15 kilometer di sebelah timur zona Graben Bantul. Data BPBD Bantul melaporkan sebanyak 4143 korban tewas di wilayah Bantul, serta mencatat 71.763 rumah rusak total, 71.372 rumah rusak berat, 66.359 rumah rusak ringan.

Adapun total korban meninggal akibat gempa di wilayah Klaten tercatat mencapai lebih dari 5.782 orang, luka berat lebih dari 26.299 orang,serta 390.077 lebih rumah roboh.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono melalui Instagram pribadinya sempat mengungkap bahwa kerusakan yang membentuk jalur adalah fenomena unik, mengingat lokasi episenter tidak terletak di zona kerusakan gempa.

Sementara dilansir dari pemberitaan Kompas.com 3 Juli 2017, pakar gempa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman Natawidjaja, menyebut bahwa gempa Yogyakarta sangat merusak karena sesar yang aktif berada di bawah kawasan permukiman penduduk.

Menurut Danny, karakteristik tanah yang berupa endapan vulkanik yang rapuh mengamplifikasi gempa, ditambah dengan konstruksi bangunan yang sangat buruk menyebabkan gempa saat itu sangat merusak. Namun, kejadian gempa tersebut rupanya masih belum dapat meningkatkan kesadaran warga terhadap pentingnya mitigasi gempa ketika membangun rumah.

Pemerintah bersama lembaga terkait diharapkan dapat lebih serius memetakan dengan rinci sumber-sumber gempa, sehingga pemerintah daerah memiliki dasar untuk merencanakan tata ruang dengan memperhitungkan risiko gempa.

 

Sumber: jrisetgeotam.lipi.go.id

repository.ugm.ac.id

repository.ugm.ac.id

kompas.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *