Surabaya Darurat Gangster, Diantaranya Masih Dibawah Umur!

Berita, Hukrim31 Dilihat

Polrestabes Surabaya menemukan 37 akun Instagram yang menjadi sarana menunjukkan eksistensi gangster. Upaya identifikasi itu dilakukan untuk melacak keberadaan pengelola dan pengikutnya.

Kapolrestabes Surabaya Kombespol Akhmad Yusep Gunawan menjelaskan, temuan itu didapat dari patroli siber. Instagram menjadi media sosial (medsos) awal yang disasar. Sebab, evaluasi menunjukkan medsos itu kerap menjadi sarana komunikasi anggota geng. ’’Berdasar pendalaman kami, unggahan pada 37 akun itu berkaitan dengan aksi geng-gengan,” ujarnya Selasa (6/12).

Yusep menyampaikan, pencarian terhadap pengelola dan pengikut setiap akun tersebut membutuhkan waktu. Pasalnya, sebagian besar memakai akun anonim. ’’Bukan karakter asli pengguna, yang ditunjukkan hanya karakter digital,” tuturnya.

Dia pun memastikan upaya identifikasi tidak dilakukan setengah hati. Jajarannya sudah berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk mendapat titik terang. Di antaranya, Subdit Siber Polda Jatim dan perusahaan provider.

Yusep menambahkan, salah satu langkah yang ditempuh adalah menjalankan scientific investigation dengan metode pengenal wajah. Dia meyakini wajah-wajah orang dari akun yang terlacak dapat diketahui. ’’Satlantas juga sudah kami minta mengidentifikasi nopol kendaraan yang ada di dalam akun,” ungkapnya.

Mantan Dirreskrimsus Polda Jatim tersebut menegaskan, pihaknya tidak diam dengan maraknya aksi anggota geng belakangan. Berbagai upaya akan terus dilakukan agar mereka tidak punya ruang gerak. ’’Tidak ada tempat untuk perusuh di kota ini,” katanya.

 

POLISI SIDAK KE SEKOLAH

Sementara itu, jajaran Satbinmas Polrestabes Surabaya mengadakan inspeksi dadakan ke SMKN 7 Surabaya kemarin. Bersama pengurus sekolah yang terletak di kawasan Bubutan itu, petugas meminta semua siswa berkumpul di aula. Handphone (HP) mereka selanjutnya diperiksa secara acak.

Wakasatbinmas Polrestabes Surabaya AKP Achmadi menuturkan, razia itu dilakukan sebagai deteksi dini kenakalan pelajar. Di antaranya, terkait fenomena gangster yang belakangan marak. ’’HP siswa diperiksa secara random. Untuk memastikan ada tidaknya keterkaitan dengan kelompok perusuh,” ungkapnya.

Dia merasa lega dengan hasil pemeriksaan. Achmadi menyebut dari sekitar 200 unit ponsel yang diperiksa, anggotanya tidak menemukan indikasi keterkaitan siswa dengan gangster. ’’Kegiatan ini berkelanjutan ke sekolah-sekolah lain,” tuturnya.

Wakil Kepala SMKN 7 Surabaya Bidang Kesiswaan Joko Catur mengatakan mendukung sidak tersebut. Razia itu dianggap sebagai langkah yang tepat untuk mengantisipasi siswa terlibat gangster.

Di sisi lain, kecamatan dan kelurahan menggelar outreach ke rumah anggota geng yang sudah terjaring. Hal itu dilakukan untuk mendalami motif apa yang membuat mereka terperosok ke dalam pergaulan yang salah. Kunjungan satu per satu dilakukan untuk melihat juga kondisi keluarga masing-masing anak tersebut.

Misalnya, di wilayah Kecamatan Lakarsantri. Di sana ada tiga orang yang terjaring razia karena ikut aksi geng. ’’Sudah kami lakukan kunjungan langsung ke rumah sekaligus mengidentifikasi kondisi mereka,’’ papar Camat Lakarsantri Yongky Kuspriyanto Wibowo

Informasi yang didapat dari ketiganya, mereka tidak tahu bahwa ajakan untuk pergi potong rambut berubah menjadi aksi penyerangan. Ketiganya merasa dibohongi rekan mereka yang lain. Tentu saja mereka tidak berkutik saat dicegat dan ditangkap warga. ’’Nangis mereka waktu ketangkap warga itu. Keterangan mereka, tidak tahu sama sekali,’’ paparnya.

Memang dalam kasus gangster itu, banyak remaja yang memiliki latar belakang masalah keluarga dan ekonomi. Pengawasan orang tua yang kurang mengakibatkan mereka mencari kelompok yang mau menerima tanpa melihat latar belakangnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *