Utang Luar Negeri Indonesia Capai Rp 6.094 T Di Oktober 2022

Berita, Ekonomi64 Dilihat

Bank Indonesia mencatat posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Oktober mencapai ke US$390,2 miliar atau Rp6.094 triliun (asumsi kurs Rp15.618 per dolar AS). Angka itu turun dibandingkan dengan posisi September sebesar US$396 miliar atau Rp6.169 triliun.

Direktur Eksekutif BI Erwin Haryono mengatakan penurunan ini disebabkan karena ULN sektor publik (pemerintah dan bank sentral) dan swasta konsisten menurun.

Erwin menjelaskan posisi ULN pemerintah konsisten menurun sejak Maret 2022. Tercatat pada Oktober tahun ini ULN pemerintah mencapai US$179,7 dolar AS lebih rendah dibandingkan September sebesar US$182,3 miliar.

Secara tahunan, ULN pemerintah terkontraksi 12,3 persen (yoy), lebih dalam dibandingkan bulan sebelumnya 11,3 persen (yoy).

“Penurunan ULN Pemerintah disebabkan oleh pergeseran penempatan dana investor nonresiden pada Surat Berharga Negara (SBN) domestik seiring dengan ketidakpastian di pasar keuangan global yang tinggi. Posisi pinjaman juga menurun seiring dengan pelunasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan penarikan pinjaman untuk mendukung pembiayaan program dan proyek prioritas,” jelas Erwin dalam keterangan resmi yang dikutip Kamis (15/12).

Sementara itu, posisi ULN swasta pada Oktober 2022 berada di posisi US$202,2 miliar turun dibandingkan dengan posisi bulan sebelumnya yang tembus US$204,7 miliar.

Secara tahunan, ULN swasta terkontraksi 3 persen, lebih dalam dibandingkan dengan kontraksi September yang mencapai 2,2 persen.

Perkembangan tersebut disebabkan oleh pembayaran neto pinjaman dan surat utang sehingga ULN lembaga keuangan (financial corporations) dan perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations) masing-masing mengalami kontraksi sebesar 3,5 persen (yoy) dan 2,9 persen (yoy).

Adapun Bank Indonesia menyatakan ULN Indonesia pada Oktober 2022 tetap terkendali. Hal ini tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang tetap terjaga di kisaran 29,6 persen menurun dibandingkan dengan rasio pada bulan sebelumnya sebesar 30,1 persen.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *